2000px Electron orbitals.svg  - Jenis-Jenis Additive untuk Meningkatkan Mutu Beton

Bahan tambah mineral (additive) yang ditambahkan pada beton dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja beton. Beton yang kekurangan butiran halus dalam agregat menjadi tidak kohesif dan mudah bleeding. Untuk mengatasi kondisi ini biasanya ditambahkan bahan tambah additive yang berbentuk butiran padat yang halus. Penambahan additive biasanya dilakukan pada beton kurus, dimana betonnya kekurangan agregat halus dan beton dengan kadar semen yang biasa tetapi perlu dipompa pada jarak yang jauh.

Penggunaan additive di dalam campuran beton mempunyai beberapa keuntungan yaitu: memperbaiki workability beton, mengurangi panas hidrasi, mengurangi biaya pekerjaan beton, mempertinggi daya tahan terhadap serangan sulfat, mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika, menambah keawetan (durabilitas) beton, meningkatkan kuat tekan beton, meningkatkan usia pakai beton, mengurangi penyusutan, membuat beton lebih kedap air , porositas dan daya serap air pada beton rendah (Mulyono T, 2003).  Beberapa jenis mineral yang dapat digunakan sebagai bahan tambah beton yaitu : puzzollan, fly ash, steel slag, copper slag dan silica fume. Bahan-bahan ini biasanya mengandung CaO, SiO2, Fe203, FeO, MgO and MnO.

Jenis-Jenis Bahan Tambah Mineral Pada Beton

1.Fly ash

Fly ash merupakan butiran halus hasil residu dari proses pembakaran batubara yang mengandung CaO, SiO2 dan Al2O3. Fly ash yang ditambahkan pada campuran beton akan bereaksi dengan Ca(OH)2 yang dihasilkan dari proses hidrasi C3S dan C2S untuk menghasilkan gel CSH baru. Pembentukan CSH baru pada beton akan dapat memperbaiki kinerja beton. Hal ini terbukti dengan penambahan fly ash sampai 20 % dari berat semen ke dalam campuran beton akan dapat meningkatkan kinerja beton (Supartono, 2005). Penggunaan fly ash bersama-sama dengan silicafume menghasilkan beton yang mempunyai kinerja lebih baik seperti: meningkatkan workability, meningkatkan kuat tekan, beton lebih kedap air dan lebih tahan terhadap serangan sulfat dibandingkan dengan beton yang menggunakan ordinary portland cement (Indrawati, 2005).

2.Silicafume

Silicafume merupakan limbah industri silicon metal yang mengandung 85 % – 95 % SiO2 dengan ukuran butiran 0,1 μm – 1 μm lebih halus dibanding semen portland yang berkisar 5 μm – 50 μm. Kadar silica yang tinggi pada silicafume dapat menjadi aditif mineral yang sangat baik pada pasta semen di dalam campuran beton. Penambahan silicafume pada campuran beton akan bereaksi dengan Ca(OH)2 yang

dihasilkan dari proses hidrasi C3S dan C2S untuk menghasilkan CSH baru. Pembentukan CSH baru ini dapat membentuk ikatan gel yang padat dan sangat kuat di dalam beton. Selain itu ukuran butiran yang sangat halus silicafume akan dapat mengisi rongga-rongga di antara butiran semen sehingga beton menjadi lebih kompak dan padat sehingga kekuatan beton meningkat. Hasil penelitian Supartono (2001) menyebutkan bahwa silicafume sebagai substitusi semen pada campuran beton dapat meningkatkan kuat tekan beton.

3.Copper Slag

Copper slag merupakan salah satu jenis Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) yang berasal dari limbah pemurnian tembaga. GGBFS dapat berupa iron slag (terak besi), steel slag (terak baja), nickel slag (terak nikel) dan copper slag (terak tembaga). Komposisi GGBFS terdiri dari CaO, SiO2, Al2O3 dan Fe2O3. Copper slag dapat digunakan sebagai bahan aditif dan bahan substitusi semen sampai 20 % karena mempunyai komposisi mendekati semen dan harganya lebih murah. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Copper slag sebagai substitusi semen sebesar 5% – 15% dapat meningkatkan kuat tekan dan kuat lentur beton (B.Mobasher, dkk, 1996). Substitusi copper slag sebersar 10% – 40 % pada w/c 0,30 di dalam campuran beton dapat menghasilkan beton dengan kuat tekan 60 – 70 MPa (Supartono, 2005).

4.Limbah Debu Pengolahan Baja (dry dust collector)

Limbah ini berupa debu yang berasal dari proses peleburan baja pada tahap akhir untuk membersihkan kotoran-kotoran pada baja yang sedang diolah. Proses terbentuknya limbah karena pada tungku tanur tinggi diberikan tekanan gas sehingga debu-debu baja terpisah kemudian ditampung di tempat pembuangan. Secara fisik limbah buangan berupa serbuk/debu yang berbutir halus, berwarna coklat dan memadat seperti tanah bila bercampur dengan air. Dari hasil pengujian di laboratorium, limbah mempunyai berat jenis 3,06, berat isi padat 1070 kg/m3, kadar air 6,20 % dan tingkat kehalusan 94,25 % lolos ayakan 75 mesh. Komposisi kimia limbah disajikan pada         Tabel A (Amalia, 2005).

  • placeholder2 - Jenis-Jenis Additive untuk Meningkatkan Mutu Beton

Beberapa hasil penelitian tentang limbah debu PT. Krakatau Steel menunjukkan kinerja yang baik. Hasil penelitian Murdiani,dkk (2006) menyebutkan bahwa dengan penambahan limbah sebesar 8 % pada conblock yang berfungsi sebagai bahan pengisi, menghasilkan conblock dengan kuat tekan paling tinggi (sebesar 35,2 kg/cm2) dibandingkan dengan conblock tanpa limbah. Limbah yang sama, digunakan sebagai filler pada campuran beton aspal menghasilkan campuran yang memenuhi standar Bina Marga (Broto,dkk : 2006). Penggunaan limbah yang sama sebagai substitusi pasir sebesar 2-10 % pada mortar dapat memperbaiki workability dan kuat tekan mortar. Pada komposisi limbah 10 % menghasilkan kuat tekan lebih tinggi 16,25 % dibandingkan mortar tanpa limbah (Amalia dan Handi , 2007). Limbah debu pengolahan baja yang digunakan sebagai filler pada beton sebesar 10 % – 30 % dapat meningkatkan kuat tekan dan durabilitas beton (H. Moosberg-Bustnes, 2004). Selain meningkatkan kinerja beton, limbah debu baja juga memperlambat proses hidrasi awal pada beton sehingga pengerasan beton lebih lambat (HU Shuguang dkk, 2006). Penggunaan limbah debu baja bersama-sama dengan fly ash pada self compacting concrete (SCC) ternyata juga menghasilkan kuat tekan paling tinggi dan penyusutan lebih rendah dibandingkan dengan beton yang hanya menggunakan substitusi fly ash (A Borsoi dkk, 2007).

 

DAFTAR PUSTAKA

A Borsoi, etc, 2007. Low-Heat, High Strength, Durable Self Consolidating Concrete. NINTH CANMET/ACI International Conference on Recent Advances in Concrete Technology.Warsaw, Poland.

Amalia dan Handi S, 2007. Karakteristik Mortar dengan Bahan Pengisi Sebagian Limbah Debu Pengolahan Baja. Laporan Akhir Penelitian DIPA Politeknik Negeri Jakarta .

Broto AB, Amalia dan Sudardja H, 2006. Karakteristik Aspal Beton dengan Filler Limbah Abu

  1. Moosberg-Bustnes, 2006. Steel Slag as Filler Material in Concrete. VII International Conference on Molten Slags Fluxes and Salts. The South African Institute of Mining and Metallurgy.

Murdiani KM, Nendi A, Armando P dan Fitri MY, 2006. Pemanfaatan Limbah Gas Kolektor PT.

 

2 responses to “Jenis-Jenis Additive untuk Meningkatkan Mutu Beton”

  1. 623129 253286Basically received my very first cavity. Rather devastating. I would like a super smile. Searching a whole lot much more choices. Several thanks for the post 681603

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *